"Kita temenan!""Sobatan!"
"Sahabat sejati!"
"Sahabat sejati itu mengunci mulut rapat-rapat untuk rahasia sahabatnya. Karenanya, tak ada keraguan untuk tertawa bersama saat terbawa bahagia dan tak ada keraguan untuk menangis padanya saat didera derita." Serempak!
Dian, Wiwiek, dan Hera, sepakat menjaga kesejatian yang mereka janjikan bersama. Janji itu terucap bukan di saat pertama mereka bertemu, tapi setelah lama berteman, lalu merasa kompak, dan merasa ada kesamaan dalam kebersamaannya selama ini.
Kebersamaan itu telah berjalan dua tahun. Janji sahabat sejati itu tak ternoda oleh ingkar, meski kini terancam putus oleh jarak.
"Kamu serius, Wiek?"
Yang ditanya, mengangguk. Anggukan yang seolah terpaksa. Wiwiek sebenarnya berat mewujudkan niatnya pindah sekolah ke Tarakann, tapi dia merasa, dia harus melakukannya.
"Ternyata aku nggak bisa pisah lama dengan mamaku," alasannya.
Dia berharap, semoga Dian dan Hera yang kini menunggu keputusannya berubah, bisa menerima alasan itu.
"Jadi, kehadiran aku dan Hera nggak ngaruh, gitu?"
"Bukan gitu, Dian! Nggak setiap waktu kita bersama kan?" Pulang sekolah, atau saat hendak tidur, kalian beralih perhatian ke Mama dan Papa kalian. Tapi aku? Aku sendiri di rumah kontrakanku. Please, ngertiin aku. Aku juga berat ninggalin kalian..."
Wiwiek sudah menangis. Dan itu yang membuat Hera dan Dian tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka harus melepas kepergian Wiwiek.
Di pihak hati Hera, sebenarnya dia sangat berat untuk perpisahan ini. Jika diminta memilih, dia lebih ringan berpisah dengan Dian daripada Wiwiek. Pada Wiwiek, Hera lebih mudah mencurahkan semua masalahnya. Tentang mama dan papanya yang terancam bercerai, atau Fauzan, pacarnya, yang selalu nampak di permukaan sebagai cowok sabar dan penyayang. Tapi pada dasarnya egois, punya seribu satu macam larangan.
Hera tak bisa bayangkan, bagaimana menanggung beratnya beban yang akan diterimanya, saat Wiwiek tak ada kelak. Ke mana dia harus bercerita? Pada Dian, Hera tak menemukan kesungguhan untuk menjaga rahasianya. Kesetiaan Wiwiek telah terbukti lama. Seumur persahabatan mereka, Hera selalu membagi keluhnya pada Wiwiek, dan sesuai permintaannya, Wiwiek tak pernah menceritakan rahasia itu pada siapa pun, termasuk Dian.
Ya, Hera hanya percaya pada satu orang. Seolah jika dibisikkan di telinga kanan Wiwiek, telinga kirinya tak akan tahu. Jarang, bahkan Hera mungkin tak akan lagi menemukan sahabat seperti itu, meski itu pada diri Dian, yang pernah mengikrarkan janji setia persahabatan bersamanya.
Hera yang selalu ingin dianggap sempurna di mata teman-temannya, tentu saja tak ingin satu kekurangannya diketahui orang lain, selain Wiwiek. Dia tak bisa bayangkan bagaimana malunya jika semua orang tahu jika mama dan papanya yang selama ini dibangga-banggakannya sebagai mama paling gaul, paling ngerti yang anaknya mau, dan bisa diajak kompromi, ternyata sebentar lagi akan menjalani hidup sebagai single parent buat Hera.
Apalagi soal Fauzan? Di depan teman-teman Hera, Fauzan memang diperkenalkan sebagai cowok paling hebat dalam hal setia, cakep, ataupun perhatian. Dan Fauzan pun, selalu melakonkan peran itu di depan teman-teman Hera, padahal apa yang terjadi sebenarnya, Fauzan tak pernah memberi kedamaian untuknya. Hanya karena Hera ingin dibilang sempurna dalam hal apapun, hingga dia masih berjuang mempertahankan Fauzan, meski menyakitkan.
Fauzan mana pernah mengiyakan ajakan Hera untuk jalan, jika Hera tak memelas seperti pengemis. Jangan mimpi Fauzan akan mendahulukan kepentingan Hera, jika suatu saat keduanya mempunyai kepentingan yang sama. Lebih menyakitkan, tak jarang, Fauzan marah tanpa alasan jelas, padahal itu untuk menutupi kesalahannya.
(bersambung...)
"Ternyata aku nggak bisa pisah lama dengan mamaku," alasannya.
Dia berharap, semoga Dian dan Hera yang kini menunggu keputusannya berubah, bisa menerima alasan itu.
"Jadi, kehadiran aku dan Hera nggak ngaruh, gitu?"
"Bukan gitu, Dian! Nggak setiap waktu kita bersama kan?" Pulang sekolah, atau saat hendak tidur, kalian beralih perhatian ke Mama dan Papa kalian. Tapi aku? Aku sendiri di rumah kontrakanku. Please, ngertiin aku. Aku juga berat ninggalin kalian..."
Wiwiek sudah menangis. Dan itu yang membuat Hera dan Dian tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka harus melepas kepergian Wiwiek.
Di pihak hati Hera, sebenarnya dia sangat berat untuk perpisahan ini. Jika diminta memilih, dia lebih ringan berpisah dengan Dian daripada Wiwiek. Pada Wiwiek, Hera lebih mudah mencurahkan semua masalahnya. Tentang mama dan papanya yang terancam bercerai, atau Fauzan, pacarnya, yang selalu nampak di permukaan sebagai cowok sabar dan penyayang. Tapi pada dasarnya egois, punya seribu satu macam larangan.
Hera tak bisa bayangkan, bagaimana menanggung beratnya beban yang akan diterimanya, saat Wiwiek tak ada kelak. Ke mana dia harus bercerita? Pada Dian, Hera tak menemukan kesungguhan untuk menjaga rahasianya. Kesetiaan Wiwiek telah terbukti lama. Seumur persahabatan mereka, Hera selalu membagi keluhnya pada Wiwiek, dan sesuai permintaannya, Wiwiek tak pernah menceritakan rahasia itu pada siapa pun, termasuk Dian.
Ya, Hera hanya percaya pada satu orang. Seolah jika dibisikkan di telinga kanan Wiwiek, telinga kirinya tak akan tahu. Jarang, bahkan Hera mungkin tak akan lagi menemukan sahabat seperti itu, meski itu pada diri Dian, yang pernah mengikrarkan janji setia persahabatan bersamanya.
Hera yang selalu ingin dianggap sempurna di mata teman-temannya, tentu saja tak ingin satu kekurangannya diketahui orang lain, selain Wiwiek. Dia tak bisa bayangkan bagaimana malunya jika semua orang tahu jika mama dan papanya yang selama ini dibangga-banggakannya sebagai mama paling gaul, paling ngerti yang anaknya mau, dan bisa diajak kompromi, ternyata sebentar lagi akan menjalani hidup sebagai single parent buat Hera.
Apalagi soal Fauzan? Di depan teman-teman Hera, Fauzan memang diperkenalkan sebagai cowok paling hebat dalam hal setia, cakep, ataupun perhatian. Dan Fauzan pun, selalu melakonkan peran itu di depan teman-teman Hera, padahal apa yang terjadi sebenarnya, Fauzan tak pernah memberi kedamaian untuknya. Hanya karena Hera ingin dibilang sempurna dalam hal apapun, hingga dia masih berjuang mempertahankan Fauzan, meski menyakitkan.
Fauzan mana pernah mengiyakan ajakan Hera untuk jalan, jika Hera tak memelas seperti pengemis. Jangan mimpi Fauzan akan mendahulukan kepentingan Hera, jika suatu saat keduanya mempunyai kepentingan yang sama. Lebih menyakitkan, tak jarang, Fauzan marah tanpa alasan jelas, padahal itu untuk menutupi kesalahannya.
(bersambung...)
oleh: S. Gegge Mappangewa







0 comments:
Posting Komentar