Minggu, 08 November 2009

Rahasia Hati (Bagian 2)



Tak pelak, rencana kepergian Wiwiek kali ini, membuat Hera seperti kehilangan sandaran.

"Kalo itu yang terbaik buat kamu, Wiek! Aku nggak mungkin egois dengan melarang kamu." Hera pasrah akhirnya.

Wiwiek memang pernah menolak ajakan mamanya saat pertama papanya termutasi ke Tarakan, dengan alasan berat berpisah dengan teman-temannya di Makassar, tapi kini...? Hera harus ngerti, jika perceraian mama dan papanya membuat dia sedih, tentu Wiwiek akan mengalami juga kesedihan itu karena hidup terpisah dari orangtuanya.

"Jarak bukan pemisah persahabatan kita kan?"



Wiwiek mengangguk. Dan saat Hera pulang tanpa disusul oleh Dian, Wiwiek mengerti, jika Dian akan bercerita sesuatu untuknya. Tentu saja suatu rahasia yang Hera pun tak boleh tahu.

"Wiek, aku nggak bisa bayangin, kalo kamu nggak ada, aku harus berbagi sama siapa?"

Seperti halnya Hera, Dian juga tak percaya pada siapa pun, kecuali Wiwiek. Entah pesona apa yang dimiliki Wiwiek hingga kedua sahabatnya itu sangat mempercayainya dalam hal menjaga rahasia. Dian tak pernah ragu berkeluh, bahkan menangis di depan Wiwiek.

Wiwiek mata rantai pertama yang tahu tentang perceraian mama dan papa Dian. Apalagi tentang Rere, adiknya yang junkie dan kini jadi buronan polisi karena diduga sebagai bandar narkoba. Hera pun tak tahu, apalagi jika itu cerita tentang keadaan rumah Dian sebelum perceraian itu. Dian malu mengungkap semuanya, tapi di depan Wiwiek, semua mengalir begitu saja.

Dian tak salah menaruh kepercayaan. Hingga kini, rahasia itu tak pernah sampai di mata rantai kedua.

"Rere sekarang di kampung bersama nenekku, Wiek!"

"Lari dari kejaran polisi?"

Didapatinya Dian dalam diam. Wiwiek yang memang sering menjadi pelabuhan masalah Dian dan Hera, langsung bisa menerjemahkan kebisuan Dian. Wiwiek juga bisa melihat, seluruh jeroan di balik rongga dada Dian, seolah terhimpit oleh dadanya sendiri. Sesak! Menghimpit keras, hingga memeras air matanya.

Mungkin terbiasa dengan cerita sedih Dian, Wiwiek sedikit pun tak bereaksi. Dia membiarkan Dian meluruhkan seluruh kesedihannya. Dia tak ingin bertanya, karena tanpa disuruh Dian akan mengungkapkan segalanya.

"Rere terjangkit AIDS."

Wiwiek tersentak mendengar kalimat itu. Sikapnya yang tadi santai menghadapi tangis Dian, kini dibawanya dalam peluk.

"Aku nggak bisa nanggung semua ini, Wiek. Aku butuh sahabat yang setiap saat bisa kutempati berbagi. Saat kamu nggak ada, aku lari ke mana? Saat semua rahasia ini terungkap, semua akan mencibirku, dan kamu nggak ada saat itu terjadi."

Dian menangis sejadinya dalam pelukan Wiwiek yang tangannya mengelus rambut dan sesekali menepuk-nepuk bahunya.

"Hera sahabat kamu juga kan? Saat kita berikrar untuk sobatan, Hera ngucapin janji yang sama dengan yang kuucapin."

"Tapi aku takut, Wiek. Aku hanya percaya kamu. Hera bukan nggak mungkin membagi ceritaku ke cowoknya, lalu terbagi lagi, hingga semua orang tahu."

"Terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan, Dian. Tapi aku harus pergi. Seperti kamu yang sedih dengan perceraian mama dan papa kamu, aku juga sedih dan nggak tahan pisah lama dengan mamaku."

(bersambung)

oleh: S. Gegge Mappangewa

1 comments: